Pahlawan Nasional yang Diabadikan di UMJ
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pahlawan Nasional yang Diabadikan di UMJ
Ada sejumlah pahlawan nasional yang merupakan tokoh Muhammadiyah diantaranya Kasman Singodimedjo, KH. Mas Mansoer, dan Ir. H. Djuanda Kartawidjaja. Ketiganya diabadikan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menjadi sebuah nama Auditorium Fakultas. Hal itu dilakukan sebagai bentuk mengenang jasa-jasa yang sudah diberikan ketiganya kepada bangsa Indonesia khususnya persyarikatan Muhammadiyah.

Kasman Singodimedjo diabadikan oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) menjadi nama Aula di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Kasman Singodimedjo adalah pahlawan nasional dan tokoh Muhammadiyah yang dikenal dengan prinsip “Hidup itu berjuang” salah satu kalimat yang familiar di telinga warga persyarikatan Muhammadiyah. Prinsip itu dipegangnya erat-erat sejak belia sampai tutup usia untuk berjuang demi Indonesia dan Muhammadiyah.
Kasman Singodimedjo lahir 25 Februari 1904 di Bagelen Purworejo, Jawa Tengah, dan wafat di Jakarta 25 Oktober 1982. Kasman diberikan gelar pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 123/TK pada tahun 2018 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.
Kasman menjadi tokoh kunci dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pelopor pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian, pada masa perumusan dasar negara, ia menjadi tokoh pelepasan tujuh kata dalam Sila Pertama Piagam Jakarta menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kasman berikiprah dalam berbagai organisasi, ia pernah menjadi pengurus Jong Islamieten Bond (JIB), Badan Urusan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BUPKI), Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), Partai Masyumi, dan menjadi Ketua Muhammadiyah Cabang Jakarta.

Panggilan ‘Kiyai’ tidak cukup familiar ditemukan pada tokoh tokoh Muhammadiyah. Panggilan tersebut akrab dengan tokoh Nadhlatul Ulama (NU) panggilan untuk seorang ulama, Muhammadiyah lebih sering menggunakan panggilan keagamaan seperti ustadz dan buya.
Namun, Muhammadiyah bukan tidak punya seorang ulama, beberapa secara khusus mempunyai julukan Kiyai dan bergelar pahlawan nasional yaitu KH. Mas Mansoer. Nama KH. Mas Mansoer diabadikan menjadi nama Aula di Fakultas Ilmu Agama Islam (FAI).
KH. Mas Mansoer lahir pada 25 Juni 1986 di Surabaya, ayahnya bernama Kyai Haji Mas Ahmad Marzuki, seorang pionir Islam, ahli agama yang terkenal di Jawa Timur dan Ibunya bernama Raudhah, seorang wanita kaya yang berasal dari keluarga Pesantren Sidoresmo Wonokromo Surabaya.
Mas Mansoer adalah tokoh ulama nasional dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia yang berlatar belakang Muhammadiyah. Ia termasuk ke dalam anggota empat serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki hajar Dewantoro. Keempat tokoh ini dianggap sebagai kelompok yang berpengaruh pada masa kemerdekaan Indonesia.
Sebagai seorang yang mempunyai jiwa nasionalisme, KH. Mas Mansoer banyak terlibat dalam peristiwa kemerdekaan Indonesia. Ia juga tercatat menjadi salah satu anggota Badan Pengurus Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BUPKI). Tidak hanya itu, menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia ia juga diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Dalam organisasi Muhammadiyah Mas Mansoer pernah menjadi ketua Majelis Tarjih Pertama dan Ketua umum yang disebut sebagai Lima Matahari yang disematkan kepada KH. Ahmad Dahlan, KH. Ibrahim, KH. Fakhrodin, dan KH. Hisyam.
Upaya Mas Mansoer dalam memperjuangkan kemerdekaan terlihat juga dengan ia mendirikan organisasi Islam lainnya, seperti Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Selain itu, organisasi lainnya yang diikuti diantaranya Sarekat Islam (SI), Moe’tamaroel Alam Islam Far’oel Hindia Syarkiyyah (MAHIS), Partai Masyumi, dan Pelajar Islam Indonesia (PII).
Di tengah pecahnya perang kemerdekaan, Mas Mansoer meninggal di tahanan pada tanggal 25 April 1946. Jenazahnya dimakamkan di Gipo, Surabaya. Mas Mansoer dianugerahi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 26 Juni 1964.

Tokoh Muhammadiyah ketiga yang diabadikan adalah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, namanya diabadikan UMJ menjadi nama aula Fakultas Teknik (FT). Djuanda adalah seorang tokoh penggagas konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia memberikan konsep kesatuan NKRI tidak hanya berupa kedaulatan wilayah-wilayah daratan tetapi pada wilayah laut juga.
Konsep tersebut dikenal sebagai Deklarasi Djuanda, deklarasi itu menyatakan bahwa laut Indonesia adalah termasuk laut sekitar, di antara dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi kesatuan NKRI.
Sebelumnya, wilayah NKRI mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939 yaitu Teritoriale Zeen en Maritieme Kringen Ordonantie (TZMKO). Dalam peraturan tersebut Belanda menyatakan pulau-pulau Indonesia di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut sejauh 3 mil dari garis pantai.
Kemudian Deklarasi Djuanda menyatakan bahwa Indonesia menganut prinsip-prinsip negara kepulauan (Archipelagic State). Setelah melalui berbagai perjuangan panjang, deklarasi Djuanda akhirnya dapat diterima pada 1982. Deklarasi Djuanda diresmikan menjadi UU No. 4/PRP/1960 tentang Perairan Indonesia dan ditetapkan dalam konvensi hukum laut PBB ke-III tahun 1982.
Ir. Djuanda lahir di Tasikmalaya pada 14 Januari 1911, ayahnya bernama Raden Kartawijaya dan Ibunya bernama Nyi Monat. Ia pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Ke-10 dan menjadi pengurus Muhammadiyah di Kota Tasikmalaya. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 244/1963 Ir. H. Djuanda Kartawijaya dikukuhkan sebagai tokoh nasional.
Penulis : Fazri Maulana
Editor : Tria Patrianti
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar